Korona Cepetlah Berlalu

Minggu lalu saya dikejutkan berita meninggalnya salahsatu anak dari pak haji Mujaed yang bernama Sulthon. Salah satu dermawan material dan pemilik toko alat pembangunan Mujaed 2 yang sudah lama ikut andil membantu pembangunan baik madrasah maupun pesantren.

Terakhir saya bertemu setelah hari raya idul fitri di rumah ayahnya H Mujaed dua bulan lalu ketika saya meminta bantuan buat berlangsungnya madrasah. Dari situ saya tidak mengira itu adalah pertemuan terakhir saya dengan H Sulthon untuk selama-lamanya. Walaupun saya mbatin baru kali ini saya ke rumah ayahnya dijagoni lama oleh almarhum. Biasanya jarang dan bahkan tak pernah ketika saya ke rumah ayahnya, almarhum ikut nimbrung jagongi saya, walau rumahnya berdampingan.

Dan selanjutnya hanya ketemu di jalan saat almarhum akan atau pulang dari toko material bangunan ke dua di Dam Telu. Dengan mengendarai Pajero, setiap kali berpas-pasan dengan saya, almarhum selalu membunyikan klakson mobilnya.

Info yang saya terima beliau terkena Korona. Dimana menurut cerita saudaranya satu minggu sebelum meninggal, justru istrinya yang lebih awal terkena, lalu kemungkinan menular ke almarhum.

Belum usai satu minggu, tetangga dekat rumah saya yang berdomisili di Malang juga menghembuskan nafas terakhir terpapar virus korona. Cerita ini lebih miris, sebab posisi meninggal ketika dia dalam keadaan mengandung tua. Demi menyelamatkan sang jabang banyi sebelum meninggal, pihak rumah sakit melakukan operasi untuk menyelamatkan banyinya. meski pada akhirnya sang ibu yang tidak bisa di tolon, artinya satu hari setelah dilakukan operasi ibunya meninggal.

Dan masih banyak lagi kejadian di desa saya yang meninggal mendadak terkontaminasi oleh virus korona, sekitar 5 orang di desa saya pada bulan ini meninggal secara tiba-tiba. Kalau dkhitung se kecamatan, mungkin sudah puluhan.

Dan pada bulan ini pula ada ratusan ulama, kiyai meninggal dunia ditengah wabah korona semakin menjadi-jadi. Terlepas itu karena korona ataupun bukan, meninggalnya ratusan kiyai dan ulama besar menjadi sebuah musibah bagi kita sebagaimana terungkap dalam hadit bahwa meninggalnya orang alim/ulama adalah musibah.

Progam PPKM oleh pemerintah di jawa dan Bali mudah-mudahan menjadi salahsatu solusi dan bentuk ikhtiar kita untuk mengurangi dan bahkan menghilangkan virus korona dari bumi Indonesia. Sehingga aktivitas masyarak kembali normal seperti sedia kala. Amien

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *