Antri dan Kesehatan

Hari ini dapat informasi dari petugas posyandu agar anak saya yang nomer empat supaya dibawa ke puskesmas untuk dilakukan campak, karena diposyandu sendiri jadwal campak hari ini sudah tidak ada karena sudah lewat. Maka harus dibawa ke puskesmas.

Tak terduga di puskesmas antri luar biasa, mungkin karena biasa di luar sehingga gak pernah memeriksakan anak di puskesmas seperti ini. Jadi harus sabar dan menunggu.

Sate penyumbang darah tinggi berat
Sate adalah penyumbang darah tinggi dan kolesterol manusia

Budaya antri seperti ini juga saya rasakan ketika berada di rumah sakit milik daerah atau rsud, prosesnys agak sedikit rumit bagi orang yang tak terbiasa dengan alur administrasi. Dari periksa lalu di suruh ke tempat bank lalu muter lagi. Ini saya rasakan ketika anak saya yang ke empat minggu lalu ngamar di rsud setelah dapat rujukan dari dokter spesialis anak karena sakit muntaber.

Bagi pemegang bpjs barangkali lebih rumit lagi. Pengalaman seperti ini pernah saya dengarkan dari kawan yang adiknya berobat di rumah sakit soetomo surabaya. Rs milik pemerintah itu menurutnya lebih jlimet dan antri luar biasa, karena pasiennya seluruh jawa timur bahkan se indonesia -ada beberapa pasien yang datang dari luar daerah-. Bahkan disana jam tiga pagi sudah antri mengular.

Tapi itu semua menurut saya tujuanya untuk menertibkan administrasi/prosedural yang harus dilalui beberapa tahap. Tak ads maksud untuk mempersulit ruang gerak pasien atau keluarga pasien. Tapi bagi pasien yang kurang sadar atau yang pingin segera ditangani adalah perkara yang menyakitkan. Ibaratnya sudah sakit parah masih harus ngantri atau muter-muter menyelesaikan administrasi.

Penyakit Bertambah Subur

Dari beberapa antrian yang banyak di rumah sakit maupun puskesmas bukti bahwa penyakit manusia masih banyak atau semakin bertambah. Faktor dominan menurut saya adalah beragam masakan dan makanan ringan yang beredar di toko yang kurang sihat.

Bagi pelaku/pengusaha makanan ringan, yang penting laku dan laris. Terlepas bahan olahan terbuat dari apa gak akan ngurus. Toh dinas kesehatan sendiri sudah memperingatkan bahkan memperketat peredaran produksi makanan yang mengandung bahan berbahaya dengan mencantumkan izin dinas kesehatan.

Tapi manusia punya siasat banyak. Izin bisa diakali sedemikian rupa. Label produk sehat ataupun halal hanyalah sebuah formalitas yang bisa dicantumkan tanpa sepengetahuan. Atau bisa pula beli ke beberapa orang dalam sehingga seolah-olah telah dapat izin dari badan pom makanan maupun mui selaku organisasi yang mengeluarkan produk halal.

Anda mungkin sering mendengar jika banyak supermarket yang ketahuan mengedarkan makanan kadarwasa ataupun makanan bodong? Andai kata tak ada sidak dari dinas kesehatan mungkin saja makanan-makanan yang diperjual belikan oleh supermarket maupun toko banyak sekali yang mengandung bahan kurang sehat dan berbahaya.

Contohnya adalah makanan saus tomat yang bahannya terbuat dari pewarna pakaian. Produk tersebut sudah terjual sedemikian luas dan banyak dikonsumsi oleh masyarak banyak dan tentu saja dijual oleh toko-toko besar.

Lalu Apa Tindakan Kita

Sebagian orang mungkin melupakan atau terlupakan bahwa kesehatan adalah harga termahal dari segalanya. Anda boleh percaya atau tidak bahwa kesehtan tak bisa dibeli dengan uang banyak. Atau berapa banyak orang menabung uang dari titik nol untuk masa depannya, kemudian dengan entengnya dikeluarkan untuk pengobatan.

Tak ada kata pelit dan eman ketika seseorang ketiban penyakit. Yang ada hanyalah bagaimana bisa sembuh dari penyakit terlepas berapa uang yang harus dikeluarkan. Namun manusia terkecoh oleh sajian lezat dan nikmat sesaat, tanpa memperhatikan dampaknya.

Hidup memang penuh resiko akan penyakit. Maka dalam agama manusia dianjurkan untuk makan sebelum kenyang. Lalu agama juga mengajarkan kepada kita untuk menjaga pola hidup dengan berpuasa. Sebab dengan puasa seseorang akan terjaga dari mara bahaya makanan yang tak terkontrol dari bahan makanan yang berbahaya.

Berapa banyak di masyarakat kita yang saat ini dapat cobaan penyakit. Di desa saya saja ada banyak orang yang terindikasi/difonis terkena penyakit kanker, lalu penyakit jantung alias mati mendadak karena kelebihan kolestrol maupun darah tinggi.

Usia memang tak panjang. Nabi memberikan ilustrasi bahwa manusia akhir zaman usia tak lebih dari usia nabi sekitar 63 selebihnya adalah bonus yang harus disyukuri. Tapi meskipun demikian kita terap optimis bahwa hidup berusia panjang adalah anugrah yang harus disyukuri karena kesempatan kita untuk lebih mendekatkan diri pada Allah jauh lebih banyak ketimbang orang yang usianya pendek dan tentu saja bermanfaat bagi unat manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *